SUPER FAMILY / KELUARGA SAKINAH

TUGAS PEMBUATAN MAKALAH
SEMESTER 3, OLEH :
1. ADE IRMAH SELVIANA (11081759)
ade
2. DWI APRIANTI (11081745)

3. HADI CAHYADI (11081748)
adhie
4. ERICKSON SARAGIH (11081773)
erick
5. IDA FARIDA (11071738)
ida
6. MAULANA (11081726)
maoel
7. MELINA JATMIKA (11081752)
meli
8. NAIN SUHADA (11081728)
nay

9. ROCHMAN (11081744)
om
10. VIDIARTOMO (11081764)
david
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadira Allah SWT penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana atas peunjuk dan hidayah-Nya, tugas pembuatan makalah ini dapat diselesaikan sebagaiman adanya. Penyusunan makalah ini merupakan suatu tugas yang diberikan kepada mahasiswa kelas 11.3D.02, termasuk didalamnya penulis sendiri dalam lingkungan BINA SARANA INFORMATIKA, sebagaimana salah satu syarat penambahan nilai tugas menjelang UAS semester 3.

Dalam penyusunan makalah ini, jauh lebih besar manfaat yang dirasakan oleh penulis, terutama dalam kegiatan serupa kelak dimasa yang akan datang. Kegiatan ini juga penulis jadikan sebagai latihan rutinitas pembuatan makalah, sehingga tidak sedikit rinangan yang penulis hadapi dalam aspek kegiatan. Namun dengan ushaa dan kerja keras serta bantuan dari berbagai pihak dan utamanya atas pertolongan Allah SWT pada akhirnya rintangan tersebut dapat diatasi hingga akhir tahap penyusunan makalah ini.
Dalam kesempatan kali ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan ugas makalah ini.
Ucapan terima kasih penulis tersebut penulis tunjukan kepada :

Hendra Kurniawan, Lc, M.Si, selaku dosen pembimbing Pendidikan Agama Islam
Semoga tugas makalah yang telah penulis selesaikan ini dapat memenuhi nilai-nilai tugas menjelang UAS semester 3. Atas perhatian dan parisipasinya Kami ucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, Desember 2009

( team penulis)

Kata Pengantar ……………………………….…………………………………………………………… 2
BAB I
Mukaddimah …………………………..………………………………………………………………… 3
Ungkapan Indah Tentang Pernikahan……………………………………………………………………… 6
Bab II
Pernikahan Kearah Pembentukan Keluarga Sakinah

A. Pernikahan Menurut Pandangan islam ………………………………………………. 7
a. Pernikahan adalah ibadah ………………………………………………. 7
b. Pernikahan adalah cara untuk
mendapat pengampunan Allah SWT …………………………………….. ………. 7
c. Pernikahan merupakan salah satu
cara untuk memperbaiki akhlak & bud …………………………….i ……………… 8
d. Pernikahan dari sudut kemasyarakatan ………………………………………………. 9
e. Pernikahan dari sudut kesehatan ……………………………………………… 9
f. Pernikahan dari sudut politik ……………………………………………… 9
g. Pernikahan adalah sunah Rosulallah ……………………………………………… 10
B. Tujuan ……………………………………………… 11
C. Hukum Pernikahan ……………………………………………… 11
D. Pemilihan Pasangan menurut Pandangan Islam ……………………………………………… 11
E. Galakan Pernikahan …………………………………………….. 19
F. Pesan Pernikahan dalam Islam ……………………………………………… 20
G. Hikmah Pernikahan ……………………………………………… 21
H. Faedah Menikah ……………………………………………… 22
Bab II
KELUARGA SAKINAH
A. Pengertian Keluarga …………………………………………….. 26
B. Kepentingan Keluarga Dalam Islam …………………………………………….. 26
C. Tujun Berkeluarga …………………………………………….. 27
D. 5 Pilar Keluarga Sakinah ……………………………………………… 27
E. Pengertian Sakinah ……………………………………………. 28
F. Membentuk Keluarga & Rumah Tangga Sakinah ……….……………………………………. 30
G. Sadar Kewajiban …………………………………………….. 30
H. Perselisihan ………………………………………………. 33
PENUTUP
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Mukaddimah

Segenap puji bagi Allah yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan, dan menanamkan rasa kasih sayang di antara mereka. Shalawat srta salam semoga selalu tercucur dan tercurah kepd Rosul yangdiutus sebagai rahmat untuk seluruh alam, yang telah bersabda, “Orang yang inginberjumpa dengan keadaan suci dan tersucikan, hendaklah menikah dengan gadis-gadis.”
Banyak orangyang menikah tanpa berbekal pengetahuan memadai tentangpernihana. Dia hanya pernikahan aalah relasi yang sah secara syar’I antara laki-laki dan perempuan, yang terbungkus dalam konsep yang berbeda-beda seiring perbedaan level sosial dan ontelektual masing-masing orang.
Perspektif Islam tentang pernikahan sebenarnya jauh lebih integral dan komprehensif daripada itu, karena Allah telah menjadikan pernikahan sebagai pemenang dan penentram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menjadikan pasangan-pasangan bagi kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu cenderung kepadanya dan merasa tenteram dengannya. Kemudian Allah menciptakan rasa kasih sayang di antara kamu. Sungguh, dalam hal ini tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum :21)

Pernikahan adalah pelindung individu maupun masyarakat, khususnya kaum perempuan. Islam memotivasi dan menganjurkan pernikahan. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan kawinkanlah orang yang bersendirian (tidak mempunyai suami atau isteri) di antara kamu, dan orang yang soleh di kalangan hamba sahaja kamu yang lelaki dan perempuan. Bila mereka miskin Allah
akan menjadikan mereka kaya dengan limpah kurnianya. Allah Maha Luas Rahmatnya lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur :32)

Orang yang membujang atau berselibat, biasanya tidak normal dan memiliki pemikiran, mimpi, perilaku, dan persepsi yang menyimpang terhadap orang lain. Ia akan lebih mudah tergoda daripada orang yang menikah.

Akhirnya, pernikahan memang hanya merupakan langkah-langkah untuk menghalalkan persetubuhan. Tapi, pada hakekatnya, ia merupakan pondasi bagi berbagai hak dan kewajiban yang harus ditunaikan dan dipserhatikan secara sungguh-sungguh. Tapi, agar bahtera rumah tangga dapat berlabuh di dermaga kesejahteraan dan ketentraman.

Nasehat Filosof
Socrates menasehati muridnya (yang takut menikah karena melihat kesengsaraan rumah tangga sang guru) untuk menikah. Socrates berkata, “Dalam kondisi appun, engkau harus menikah. Jika engkau mendapat istri yang baik, engkau akan berbahagia. Jika engkau mendapat istri yang menjengkelkan, engkau akan menjadi orang yang bijaksana. Singkatnya, keduanya menguntungkan.”

Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua.

Metode Penulisan
Penulis mempergunakan metode observasi dan kepustakaan.
Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah :
Studi Pustaka
Dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan denga penulisan makalah ini.

Ungkapan Indah tentang Pernikahan

 PERNIKAHAN yang tidak dibangun di atas pondasi keimanan , akan berakhir dalam keadaan mati
 Pernikahan adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala baik bagi sang suami maupun san istri.
 Pernikahan yang dibeli dengan harta, akan dijual ketika harga jualnya lebih menguntungkan.
 Pernikahan demi kecantikan atau ketampanan semata, seperti rumah yang dibeli karna berandanya saja.
 Pernikahan adalah upaya untuk saling melengkapi antara dua orang yang tidak sempurna dan saling memahami antara dua orang yang berakal.
 Pernikahan yang sukses dan bahagia adalah suami dan istri yang saling memahami, menjalankan perannya dengan baik & mendukung peran pasangannya.
 Jangan membangun rumah di atas tanah, bangunlah diatas pernikahan

A. PERNIKAHAN MENURUT PANDANGAN ISLAM

a. Pernikahan adalah ibadah
Pengertian ibadah dalam Islam amat luas, meliputi setiap bidang kehidupan. Setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh seseorang demi keridhaan Allah SWT adalah ibadah yang mendapat ganjaran. Bahkan setiap suapan nasi yang diberikan oleh suami kepada istrinya dengan penuh rela dan ikhlas adalah ibadah. Hadith Rasulullah yang diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqas:
“Nafkah apapun yang engkau berikan dengan harapan mencari keridhaan Allah SWT pasti engkau akan mendapat pahala, bahkan apa saja yang engkau suapkan ke mulut isterimu.”

b. Pernikahan adalah cara untuk mendapatkan pengampunan Allah, peningkatan derajat dan istiqomah (kematangan iman dan kelurusan sikap)
Rasulullah saw bersabda/
. “Di antara berbagai dosa, ada beberapa dosa yang tidak terhapus kecuali oleh kesulitan mencari penghidupan.”

Pernikahan adalah merupakan satu perjuangan kerana didalamnya mengandung unsur perjuangan melawan nafsu dan latihan jiwa dengan tujuan menjaga, mengasuh, memenuhi kewajiban, kesabaran yang tinggi, tabah dengan permasalahan, berusaha memperbaiki dan menunjukkan mereka ke jalan yang agama, bekerja keras mencari nafkah yang halal dan memberikan pendidikan kepada anak-anak. Amalan-amalan ini mempunyai ganjaran yang besar seandainya dapat dilaksanakan dengan baik. Rasulullah SAW bersabda memberi peringatan:

“Sehari bagi seorang pemimpin yang adil lebih baik dari ibadah 70 tahun. Kemudian beliau melanjutkan, masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu dituntut supaya bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya.”

Bekerja untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain tidaklah sama dengan bekerja untuk kepentingan diri sendiri saja. Orang yang sabar menghadapi gangguan tidak sama dengan orang yang hidup senang dan gembira. Mengurus isteri dan anak-anak sama dengan perjuangan di jalan Allah.

c. Pernikahan merupakan satu cara untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti.

Pernikahan dalam Islam adalah satu-satunya cara yang digunakan untuk menjaga kebahagiaan umat, kerusakan dan kemerosotan akhlak. Islam juga memelihara keselamatan individu dari pengaruh kerusakan masyarakat karena kecenderungan nafsu terhadap kaum yang berlainan jenis. Rasulullah bersabda:

“Wahai pemuda, barang siapa di antara kamu telah mampu menanggung beban rumahtangga hendaklah segera kawin, karena hal itu lebih dapat memejamkan mata {yakni tidak memandang perempuan} dan lebih dapat menjaga kesucian diri (dari perbuatan zina). Siapa yang belum, sebaliknya ia berpuasa baginya adalah penjagaan diri.”

Ukuran kemampuan adalah berbeda menurut keadaan waktu dan tempat. Menurut kebiasaan dan tempat masing-masing. Pernikahan dapat meredakan keresahan hati, membersihkan rohani, menenangkan jiwa di samping menjaga keselamatan agama.

Kemiskinan bukanlah alasan yang tepat untuk menolak pernikahan.Islam tidak memandang kemiskinan sebagai alasan untuk menghindarkan diri dari pernikahan dan bukan pula penyebab untuk menolak pinangan seorang lelaki. Sebaliknya, Islam menggalakkan orang-orang yang berkemampuan untuk mengadakan pernikahan supaya bersedia mennikahkan anak perempuannya dengan lelaki yang soleh, taat pada ajaran agama, jujur dan baik budi pekertinya tanpa memandang kaya atau miskin bahkan mereka hendaklah mengutamakan lelaki yang miskin dan soleh dari lelaki yang kaya tetapi jahat. Firman Allah SWT,

“Dan kahwinkanlah orang yang bersendirian (tidak mempunyai suami atau isteri) di antara kamu, dan orang yang soleh di kalangan hamba sahaja kamu yang lelaki dan perempuan. Bila mereka miskin Allah akan menjadikan mereka kaya dengan limpah kurnianya. Allah Maha Luas Rahmatnya lagi Maha Mengetahui.” An-Nur {Ayat32}

Begitulah Islam tidak menilai seseorang dari sudut kemampuan kebendaan, rupa, harta kekayaan atau perkataan manusia tetapi Islam mengutamakan faedahnya yang haqiqi dan menilai hati dan amal perbuatan.

d. Pernikahan dari Sudut Kemasyarakatan

Menurut pandangan Islam, pernikahan adalah satu cara yang berfaedah untuk tujuan-tujuan sosial yang mulia dan menjamin lahirnya hubungan yang kukuh antara anggota masyarakat. Hubungan melalui pernikahan dengan sendirinya menimbulkan semangat tolong-menolong, kenal-mengenali antara semua anggota keluarga dan kerabat. Secara tidak langsung hubungan antara masyarakat semakin erat karena diikat dengan tali persaudaraan rabbani.

e. Pernikahan dari Sudut Kesehatan

Islam memandang perkawinan sebagai cara yang bermanfaat untuk menjaga kaum lelaki dari keburukan dan bahaya yang dilakukan secara bersembunyi, penyelewengan seks dan segala gejala yang dapat merusakkan kesihatan fizikal dan mental. Rasulullah bersabda:

“Apabila dalam satu kaum banyak yang berbuat maksiat secara terang-terangan, kaum itu pasti akan ditimpa bencana wabah penyakit yang belum pernah dialami oleh kaum terdahulu.”

Oleh yang demikian, seseorang itu perlu segera melakukan perkawinan setelah mencapai cukup usia bagi memelihara kesegaran jasmani,agar tidak terjadi untuk menjaga kesehatan badan dari serangan penyakit yang marabahaya.

f. Pernikahan dari Sudut Politik.

Keutuhan dan kemuliaan sesuatu bangsa atau umat itu tidak mungkin tercapai tanpa adanya persediaan dan kemampuan yang cukup. Kekuatan tersebut tidak terlepas dari dua bentuk asas yaitu kekuatan spiritual (ruhiyyah) dan kekuatan material (maddiah). Umat yang mempunyai kedua-duanya inilah yang akan dapat menguasai dunia.

Kekuatan spiritual telah dibawa oleh Islam melalui keimanan kepada Allah, manakala kekuatan unsur material yang terpenting ialah kaum pemuda yang memiliki semangat perjuangan. Atas sebab inilah Rasulullah menyeru umatnya supaya melaksanakan pernikahan dan dapat melahirkan anak cucu keturunan yang soleh, sehat dan kuat jasmaninya, sanggup bekerja keras dan berjuang. Mereka inilah yang akan membela dan mempertahankan umat dan bangsanya dari serangan musuh dan menyebarkan agama Allah. Sabda Rasulullah:
“Hendaklah kamu berkahwin agar dapat melahirkan keturunan. Pada hari Qiamat kelak aku berbangga jika kamu menjadi umat yang banyak dari umat yang lain.”

g. Pernikahan adalah sunnah Rasulullah saw.

Menolak atau mengabaikan perkawinan adalah perbuatan yang menyimpang dari sunnah Rasulullah. Pada dasarnya, perkahwinan adalah sebahagian dari fitrah manusia, dan berdasarkan fitrah tersebutlah Allah menciptakan manusia. Ianya juga merupakan sebahagian dari sunnatullah yang berlaku di alamnya. Kerana itulah Rasulullah melarang dari bersikap menolak atau mengabaikan pernikahan. Sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa tidak menyukai sunnahku ia bukan dariku (bukan umatku). Berkawin adalah sunnahku, kerana itu siapa yang mengasihi aku hendaklah ia melaksanakan sunnahku.”

Rasulullah menegaskan bahawa orang yang membujang (tidak mahu berkahwin) adalah
orang-orang yang sia-sia hidupnya dan mereka juga merupakan orang yang sia-sia matinya. Abu Dzar menyatakan bahawa Rasulullah bersabda:
“Orang-orang yang buruk di antara kamu ialah mereka yang hidup membujang dan di antara kamu yang matinya sia-sia ialah mereka yang hidup membujang.”

Rasulullah telah menjelaskan kepada kita tentang perbedaan ibadah orang yang berkeluarga dari ibadah yang hidup membujang. Sabdanya:
“Dua rakaat yang dilakukan oleh orang yang berkeluarga lebih afdhal 70 rakaat dari orang yang hidup membujang”
Sabdanya lagi:
“Seorang hamba Allah yang telah beristeri ia telah melengkapi separuh agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah untuk memenuhi kekosongan yang sebahagiannya lagi.”

Abdullah b. Abas pernah mengatakan ,”Hendaklah kamu beristeri kerana sehari beristeri lebih baik daripada seribu tahun beribadah.”

Dalam keadaan sakit tenat Abdullah b. Mas’ud berkata; kahwinilah aku, kerana aku tidak ingin mengadap Allah dalam keadaan membujang.”

Apa kata Tabein,
Sufyan ats-Tsauri bertanya kepada seorang lelaki, “Apakah engkau telah beristeri?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Sufyan mengatakan, “kalau begitu engkau tidak menyedari keselamatan engkau berada di dalamnya.” (Dalam kehidupan berkeluarga)

B. TUJUAN PERNIKAHAN
Tujuan utama penikahan sendiri hakekatnya adalah melaksanakan amanat Ilahi untuk meneruskan keturunan,menciptakan generasi pelanjut, agar bumi ini diisi dan dipimpin
oleh manusia yang sholeh dan sholihah. Jadi dengan demikian, pernikahan hanyalah sebuah permulaan atau sebuah peresmian sebuah proyek raksasa yang pekerjaannya sendiri baru kan dimulai. Peringatan Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 tersebut diatas sangat jelas, hendaknya setiap lembaga keluarga mampu memberikan habitat bagi tumbuhya generasi yang kuat dan bertaqwa kepadaNya.

C. HUKUM PERNIKAHAN DALAM ISLAM

a. FARDHU – Bagi lelaki yang soheh dan tidak mampu untuk tidak memerlukan kepada perempuan dan yakin jatuh kepada perzinaan apabila tidak menikah.
b. WAJIB – Lelaki yang soheh dan takut jatuh kepada penzinaan mampu untuk menanggung bebanan pernikahan.
c. HARAM – Lelaki yang mengaku tidak mampu untuk menunaikan tanggungjawab atau hak-hak dalam pernikahan tapi memerlukan wanita.
d. HARUS – Lelaki yang mampu memikul bebanan perkahwinan dan tidak takut jatuh kepada perzinaan apabila tidak nikah.
e. MAKRUH – Mampu menikah tetapi tidak mampu bertanggungjawab atau hak-hak isteri.

D. PEMILIHAN PASANGAN MENURUT PANDANGAN ISLAM.

a. Pandangan Islam dalam Memilih Pasangan Hidup.
Faktor yang menentukan kebahagiaan atau kecelakaan sesebuah rumah tangga itu bermula di peringkat yang lebih awal iaitu peringkat membuat penentuan dan pemilihan, bukannya bermula sesudah memasuki gerbang rumah tangga.
Asas pemikiran adalah penting dalam menentukan kebahagiaan sesebuah rumah tangga. Sekiranya neraca atau ukuran yang digunakan dalam memilih pasangan hidup itu tidak betul, maka kebahagiaan itu agak sukar dicapai.
Menurut pandangan Islam perkara yang utama yang harus dijadikan neraca ukuran oleh bakal suami isteri dalam memilih pasangan hidup ialah agama dan akhlak yang luhur, bukan pangkat, kecantikan, harta benda dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita itu dinikahi kerana empat perkara; kerana hartanya, kerana tarafnya, keturunannya dan pangkatnya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka hendaklah kamu mengambil wanita yang beragama supaya kamu berbahagia.”

Sekalipun hadis ini pada zahirnya ditujukan pada kaum lelaki akan tetapi pengajarannya juga melibatkan kaum wanita. Islam sebagai agama yang benar telah meletakkan asas yang kukuh bagi pembentukkan keluarga sesuai dengan tujuannya yang penting yang hendak dilahirkan dalam kehidupan umat islam. Sebagaimana Firman Allah;
“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia .”
INILAH MATLAMATNYA………

Ibarat orang yang hendak mendirikan rumah, mereka dapat memilih tempat yang sesuai, bahan yang kuat agar bangunan rumah yang didirikan itu keamanan, kekuatan dan keutuhannya. Oleh yang demikian, untuk membangun sesebuah rumahtangga ianya memerlukan faktor-faktor yang terpilih di samping berhati-hati dan berwaspada.
Pemerhatian dan penelitian yang hendak dilakukan hendaklah secara mendalam dalam memilih teman hidup adalah penting untuk mencapai kebahagiaan individu, keseluruhan masyarakat dan kemajuan umat banyak bergantung kepada kesihatan dan keutuhan institusi keluarga.
Atas sebab inilah Mustafa Mahsyur menyarankan kepada saudara muslim dan muslimah agar mecari isteri dan suami yang soleh dan solehah sebagai kongsi hidup. Memilih lelaki yang soleh aqidahnya dan bertaqwa kepada Allah SWT, memahami tugas dan risalah dalam hidupnya. Seorang isteri yang taat, penolong atas jalan yang dilaluinya sentiasa memberi perangsang dan mengingat tatkala lupa Allah SWT dan lainnya.

b. Peranan Agama dalam Memilih Calon Suami / Isteri.
 Suami isteri hendaklah merupakan burung dua sejoli.
Allah SWT berfirman

“Mereka {isteri} adalah pakaian bagimu, dan kamu pun menjadi pakaian baginya.” Al-Baqarah
Suami isteri adalah merupakan pendayung dalam sebuah rumah tangga. Samudera penghidupan yang dilayari oleh bahtera kedua suami isteri itu merupakan samudera yang amat luas dan tidak kelihatan pinggirnya. Ia dipenuhi oleh gelombang suka dan duka, berisi riak yang memecah dan arus yang menggoyangkan, air yang pasang dan surut.
Andai bertiup angin sejuk, maka belayarlah bahtera itu membelah gelombang. Tetapi andai kata taufan yang bertiup maka kadangkala bahtera itu terdampar ke batu karang……Kadang-kadang remuk dan hancur. Ketika inilah putus tali….putus harapan…. Putus kasih sayang.

 Isteri yang Beragama Selalu Memegang Rahasia Rumahtangga .
Firman Allah SWT

“Maka isteri yang baik itu, mereka yang baik dan setia kepada suaminya, mereka selalu memelihara kehormatan dirinya selama suaminya tiada di rumah, sebagaimana Allah SWT memeliharanya.” An-Nisa’ {ayat34}

 Memilih Isteri yang Beragama.

Sesungguhnya dalam proses pemilihan jodoh ini wanita dan lelaki berlainan pandangan. Akan tetapi Islam telah pun menggariskan satu cara penyelesaian yang wajar serta mampu membawa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
“Dari Abdillah b. Amr r.a ia berkata, Telah bersabda Rasulullah janganlah kamu nikahi wanita kalau hanya kerana kecantikannya sahaja, sebab kecantikannya itu dapat membawa celaka. Dan jangan kerana kekayaan saja, kerana kekayaan itu dapat menyebabkan derhaka. Tetapi nikahilah mereka kerana memandang agama. Dan sesungguhnya hamba sahaya yang hitam, yang koyak telinganya, tetapi taat kepada Allah, adalah lebih baik.”

 Memilih Suami yang Beragama
Rasulullah bersabda:
“Bila datang kepadamu {melamar} orang yang engkau sukai agamanya dan perangainya, maka kahwinilah dia, {terima lamarannya}. Jika kamu tidak mahu berbuat begitu akan terjadilah fitnah di muka bumi dan kerosakan. Mereka bertanya; Walau ada padanya sesuatu{miskin atau lainnya}.Rasulullah menjawab; Bila telah datang kepadamu {melamar} orang yang engkau sukai agamanya maka nikahilah dia{terimalah lamarannya}. Tiga kali Rasulullah mengulangi kalimah itu.

c. Dasar-dasar Memilih Calon Isteri menurut pandangan Islam.
Membangunkan rumah tangga muslim yang sejati adalah merupakan cita-cita kaum muslimin.Atas sebab inilah Islam telah meletakkan kaedah-kaedah yang tetap dan prinsip-prinsip yang betul dari peringkat awal-awal lagi. Kaedah dan prinsip ini apabila diikuti dan ditaati mereka pasti akan dapat hidup dengan tenang ,tenteram dan bahagia.

 Dasar pertama;
Sabda Rasulullah:
“Kahwinlah dengan wanita yang baik penghayatan agamanya, engkau akan memperoleh ketenteraman .”

Contoh perkahwinan dengan Siti khadijah r,a dalam usia yang jauh berbeza akan tetapi kehidupan mereka penuh dengan kebahagiaan.

Sabdanya
“Janganlah kamu kahwin dengan seorang wanita kerana kecantikannya kerana kecantikannya akan memusnahkan dirinya. Janganlah kamu berkahwin dengan seorang wanita kerana kekayaannya, kerana kekayaannya akan membuatkannya derhaka. Kahwinlah dengan wanita itu kerana agamanya. Sesungguhnya seorang wanita suruhan yang baik penghayatan agamanya lebih baik dikahwini, sekalipun ia berkulit hitam dan cupingnya berlubang besar.”

“Janganlah kamu berkahwin dengan wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Dan sesungguhnya seorang hamba perempuan yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik sekalipun keadaannya menarik hati kamu.”
Ini memandangkan kesatuan, keyakinan dan kesamaan aqidah merupakan satu-satunya jaminan bagi terciptanya kerukunan, kesetiaan, keserasian, ketenangan dan ketenteraman dalam kehidupan suami isteri.

Allah SWT berfirman

“Mereka mengajak ke neraka , sedang Allah mengajak ke syurga”. Al-Baqarah{Ayat 221}

 Dasar Ketiga.

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu”

“Berkahwin dengan wanita bukan keluarga.”
Firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa’ {Ayat 22}

“Janganlah kamu mengahwini dengan wanita yang telahb diperisterikan oleh bapamu., kecuali apa yang telah berlaku pada masa lalu. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan merpakan satu jalan yang buruk.”

Sabda Rasulullah:
“Janganlah berkahwin dengan adik-beradik sendiri, kerana akan melahirkan anak-anak yang berbadan kurus, lemah dan kurang mampu berfikir”.

 Dasar Keempat.
Mencari isteri yang subur tidak mandul. Islam menganjurkan supaya mencari calon isteri yang subur, tidak berpenyakit keturunan yang mencegah kehamilan dan kelahiran anak. Sebaliknya mempunyai persiapan untuk menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Pada kebiasaannya persiapan itu dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan ibu gadis yang berkenaan sebagai ukuran yang pertama.

Firman Allah;

“Harta dan anak-anak adalah hiasan kehidupan dunia”

Sabda Rasulullah:
“Hendaklah kamu berkahwin dengan wanita yang subur dan tidak mandul, kerana pada hari Qiamat kelak aku akan berbangga melihat kamu sebagai umat yang paling banyak jumlahnya.”

 Dasar Kelima.
Lebih mengutamakan yang gadis.
Sabda Rasulullah:

“Hendaklah kamu berkahwin dengan gadis, kerana mereka lebih sejuk mulutnya, (lebih tulus dan ikhlas) lebih mantap rahimnya, lebih sedikit kerenahnya, dan merestui dengan kerja yang ringan dan mudah.”

Demikianlah ketika Rasulullah mendengar Jabir r.a berkahwin dengan janda, ketika itu baginda bertanya, “apakah tidak ada gadis yang engkau sukai dan menyukaimu ?”

Tidak dapat dinafikan setiap sesuatu mempunyai sandaran, dan sandaran keluarga muslim ialah taqwa. Hanya taqwa yang membuatkan semua urusan menjadi mudah, mendorong ke arah kebajikan serta membetulkan pergerakan anggota.

Seorang isteri yang bertaqwa pasti mengetahui tanggungjawabnya kepada Allah SWT, suaminya dan dirinya sendiri, menguruskan kecantikan dirinya tanpa berlebihan, mentaati suaminya dalam segala hal yang bukan maksiat, mengingati pesanan suaminya diwaktu sunyi dan terang dan menjaga hartanya setiap waktu.

Benarlah sabda Rasulullah.
“Isteri yang baik ialah jika dilihat ia menyenangkan hatimu, jika disuruh ia taat kepadamu, dan pada saat engkau sedang merantau ia menjaga dirinya dan menjaga hartamu.”

d. Dasar-dasar Dalam Memilih Calon Suami

Islam meletakkan kaedah-kaedah pokok sebagai dasar pertimbangan yang sihat dalam memilih calon suami. Dasar ini jika diikuti dan dilaksanakan sudah tentu dapat menyelamatkan puterinya dari berbagai macam kesukaran,penderitaan dan kemalangan yang serba berat.

 Dasar pertama.
Sabda Rasulullah saw;
“Jika datang seseorang lelaki meminang anakmu, dan kamu berpuas hati dengan agamanya serta akhlaknya, nikahkanlah ia (dengan anakmu). Jika hal itu tidak kamu lakukan, maka akan terjadi fitnah (di muka bumi) dan kerosakan yang amat luas.

Secara tidak langsung pertimbangan agama hendaklah melebihi pertimbangan yang lain.

 Dasar Kedua.
Hadis Rasulullah;.
“Barang siapa menikahkan anak perempuannya dengan lelaki fasik, (derhaka) bererti ia telah memutuskan hubungan silaturrahim dengan anaknya sendiri.”

Hadis ini mempunyai kaitan yang rapat dengan asas sebelumnya.

 Dasar Ketiga.

Dalam memilih jodoh, janganlah memandang kepada soal-soal lahiriah kerana ianya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Persamaan (kufu dan kafa’ah) antara calon suami dan isteri dalam hal agama dan akhlak harus menjadi dasar pertimbangan untuk menerima pinangan yang diajukan.

Firman Allah SWT :
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu dan orang-orang yang soleh dari hamba sahaya kamu, lelaki mahu pun perempuan. Jika mereka itu miskin Allah akan berkenan membuatkan mereka mampu dengan limpah kurnianya.Allah Maha luas Rahmatnya lagi Maha Mengetahui.”

 Dasar Keempat.

Ditegah mengahwinkan wanita Islam dengan lelaki bukan Islam. Hal ini dinyatakan dalam ayat Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 32.
Dan kawinlah laki-laki dan perempuan yang janda di antara kamu, dan budak-budak laki-laki dan perempuan yang patut buat berkawin. Walaupun mereka miskin, namun Allah akan me¬mampukan dengan kurniaNya karena Tuhan Allah itu adalah Maha Luas pemberianNya, lagi Maha Mengetahui (akan nasib dan kehendak hambaNya).

Allah SWT mengharamkan hal ini kerana dengan perkahwinan seperti itu kedua insan (suami isteri) tidak bersatu dalam satu kepercayaan mengenai Allah SWT, dan kehidupannya tidak akan ditegakkan atas dasar kecintan dan ketaatan kepada Allah SWT.

 Dasar Kelima.
Calon suami hendaklah tidak mempunyai cacat yang boleh menghalang perkahwinan seperti menderita sakit kusta, sakit jiwa dan lainnya. Begitu juga bagi lelaki yang lemah tenaga batin sehingga tidak berkemampuan untuk bersetubuh dengan isteri.

e. Hak Wanita Dalam Pemilihan

 Wanita Boleh Memilih Jodoh.
Wanita boleh menawarkan diri untuk dikahwini oleh lelaki yang soleh. Demikianlah tingginya nilai toleransi dan objektif yamg dibawa oleh Islam, sehingga dalam keadaan tertentu membolehkan wanita menentukan jodohnya sendiri. Apabila ia benar-benar yakin bahawa jodoh yang diingini itu seorang lelaki yang soleh, kuat penghayatan agamanya, jujur dan dapat dipercayai.

Dalam hal ini, seorang wanita boleh menawarkan dirinya untuk dikahwini oleh lelaki yang disukainya, semata-mata hendak atau menghendaki kesolehannya dan merasa puas melihat ketaqwaannya. Tidak ada salahnya wanita berbuat demikian selagi ia bertujuan untuk mendapat keredhaan Allah.

Sebuah hadis yang berasal dari Anas r.a mengatakan sebagai berikut; “Pada suatu hari datanglah seorang wanita kepada Rasul SAW menawarkan diri untuk dinikahi oleh beliau,Ya Rasulullah, apakah anda inginkan diriku? Anak perempuan Anas yang ketika itu hadir berkata, “perempuan tak punya malu, alangkah buruknya…….alangkah buruknya perempuan itu”.Mendengar anaknya berkata begitu,Anas menjawab, “Ia lebih baik dari dirimu, ia menghendaki Rasulullah, oleh itu ia menawarkan dirinya untuk dikahwini oleh baginda,”

Dari peristiwa yang jarang terjadi itu kita dapat mengambil kesimpulan mengenai beberapa bentuk kesopanan antaranya;

1. Kesopanan wanita itu dan kepandaiannya dalam hal menawarkan diri, cara yang baik dan sesuai dengan perasaan malunya, tanpa menagatakan ‘aku ingin dinikahi oleh anda, Ya Rasulullah.’
2. Sikap wanita itu tidak boleh dipersalahkan kerana ia tidak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan syariat. Hal ini terbukti kerana Rasulullah SAW sendiri tidak mencela perbuatannya.
3. Rasulullah dengan keagungan akhlaknya dan kesopanannya yang sempurna, cukup dengan hanya mengambil sikap diam sebagai isyarat penolakannya.

 Wanita Berhak Memilih Jodoh.
Islam sangat berhati-hati dalam menetapkan ketentuan untuk menjamin isteri dan kemantapan keluarga iaitu dengan memberikan hak kepada wanita untuk mengambil keputusan, apakah ia menerima atau menolak lamaran seorang lelaki.tidak seorang pun yang dapat memaksanya untuk berkahwin dengan lelaki yang tidak disukainya. Kerana kehidupan suami isteri tidak mngkin dapat ditegakkan atas dasar paksaan dan tekanan.Jauh sekali peasaan kasih saying dapat diwujudkan bersama perasaan benci dan terpaksa.
Sabda Rasulullah,
Maksudnya: “Mintalah pendapat wanita mengenai diri mereka.Seorang janda dapat menyatakan sendiri kesediaannya.Jika wanita itu seorang gadis,cukuplah dengan sikap diamnya.”

 Hak Wanita Untuk Menolak Pernikahannya dengan Lelaki yang tidak Disukainya.

Kisah pertama,
Riwayat seorang wanita bernama Khunfasa bt. Khadam di mana sebelum ini suaminya Anis b. Qatadah gugur syahid dalam peperangan Badar, mengahwinkannya dengan seorang lelaki yang tidak disukainya. Lalu ia datang menemui Rasulullah mengadu, “Ya Rasulullah ayahku mengahwinkan aku dengan lelaki lain padahal aku lebih menyukai bapa saudaraku (ipar lelakinya)”Atas pergaduhan itu Rasulullah membatalkan perkahwinannya dengan lelaki itu, setelah jelas bahawa Khunfasa benar-benar yakin bahawa kepentingan dirinya dan anak-anak akan lebih terjamin bila ia dikahwinkan dengan saudara lelaki suaminya.

Kisah kedua.
Riwayat yang berasal dari Jabir r.a mengatakan ;
“Seorang ayah mengahwinkan anak gadisnya tanpa diminta persetujuannya. Gadis itu kmudian datang mengadukan perkaranya kepada Rasulullah. Atas pengaduannya bagida kemudian menceraikannya dari suaminya.”

E. GALAKAN PERNIKAHAN
Firman Allah;

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menjadikan pasangan-pasangan bagi kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu cenderung kepadanya dan merasa tenteram dengannya. Kemudian Allah menciptakan rasa kasih saying di antara kamu.” Al-Rom {Ayat 21}

Dari potongan ayat di atas dapat kita simpulkan tiga perkara.

a. Ketenteraman Jiwa.
Ketentraman jiwa dari kehendak nafsu merupakan masalah asas bagi pasangan suami isteri. hanya merupakan makna yang mendalam, menjelaskan perasaan rindu, cinta serta kenikmatan hasil dari hubungan keduanya. Melalui hubungan dan pergaulan inilah kedua-duanya melaksanakan salah satu dari tugas kemanusiaannya iaitu lahirnya manusia baru bagi mewarisi generasinya.
Kelahiran generasi ini dapat menghilangkan keresahan naluri yang terbesar dari dalam hati dan fikiran keduanya. Masalah ini harus dipelihara sebaik mungkin sesuai dengan petunjuk kitabullah agar perkahwinan menjamin kebahagiaan dan kesuciannya.

b. Kecintaan yang Berbalas.
Kecintaan yang datang sebelum pernikahan telah berbalas dari apa yang dilahirkan dari perkataan antara satu sama lain dan ditambah pula dengan adanya kerjasama serta saling bantu-membantu antara keduanya. Pengertian kecintaan yang sebenarnya akan dapat direalisasikan sepanjang kehidupan mereka.

c. Perasaan Kasih Sayang
Manusia tidak akan sempurna kecuali jika ia memiliki rasa kasih sayang yang datangnya selepas pernikahan. Yaitu kasih sayang sebagai ibu dan ayah kepada anak-anak.
Pengertian “Mawaddah” atau cinta yang dinyatakan seperti ayat di atas adalah merupakan gerakan jiwa untuk bersetubuh yang didorong oleh syahwat keberanian yang bergelora dalam jiwa yang disebabkan oleh mekanisma (suatu tarikan) antara keduanya. Inilah yang mendatangkan mawaddah atau cinta.

Manakala “Rahmah” atau kasih sayang belum tentu mengandungi cinta. Cinta boleh jadi akan habis atau hilang dengan usia yang semakin meningkat akan tetapi “rahmah” akan tetap kekal meskipun usia semakin larut, yang ditimbulkan oleh berbagai pertimbangan keperimanusiaan dan perasaan yang mendalam. Adanya perpaduan antara “mawaddah dan rahmah” inilah wujudnya “as-sa’adah” dan keindahan dalam rumah tangga.

F. PESAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM
a. Merealisasikan makna khalifah
Melalui pernikahan sajalah yang dapat memelihara keturunan mengikuti, meneruskan dan mewarisi pembangunan manusia di atas muka bumi. Iaitu melalui perkembangan generasi seterusnya untuk melaksanakan tujuan kejadian manusia.

b. Tidak jatuh dalam perkara yang haram
Firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Al-Isra’ ayat 32
Maksudnya: Dan janganlah kamu mendekati zina.

c. Mendidik generasi baru
Melahirkan anak-anak (generasi) dalam biah Islam yang murni, dengan persediaan-persediaan dakwah dan jihad bagi anak-anak. Menanamkan perasaan mahabbah, tolong-menolong dan asas-asas akhlak Islam dalam jiwa anak-anak. Sehinggalah lahirnya masyarakat Islam yang soleh. Menanamkan juga perasaan jihad ke dalam diri anak-anak untuk merealisasikan firman Allah

“ Dan orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu dimasukkan ke dalam azab”. Saba’ ayat 38

Maksudnya: Dan tidak Aku mengutuskan kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.

d. Berkongsi dalam menanggung bebanan hidup
Perkongsian antara suami isteri dalam menanggung bebanan hidup seperti mana yang telah dipertanggungjawabkan akan membantu mencapai kebahagiaaan yang sebenar, berasaskan kerehatan diri di samping membantu pengubudiahan kepada Allah SWT dalam ertikata yang sebenarnya. Kehidupan suami isteri adalah satu perkongsian antara keduanya.

G. HIKMAH PERNIKAHAN

a. Menerus dan meluaskan kejadian manusia

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala

Kebenaran dan Kekuasaan Allah SWT

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala

“Dan Kami jadikan kamu berpasangan.” Surah An-Naba’{ayat 8}

b. Sunnah Rabbaniah atau Sunnatullah

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala
“Dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasangan supaya kamu mengingati {Kekuasaan Kami dan mentauhidkan Kami}” Al-Zariat {ayat 4}

c. Menjauhkan Maksiat Dengan Melaksanakan {Ghaddhul Bashar}

d. Melahirkan Rasa Kasih Sayang.
Firman Allah SWT .

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir A-Rom {ayat 21}

H. FAEDAH PERNIKAHAN
a. Menuntut Kasih Sayang Allah Dengan Mengekalkan Keturunan Manusia Selagi Mewarisi Bumi.

Firman Allah SWT

“Allah menjadikan bagi kamu dari isteri-isteri kaum sejenis kamu sendiri dan menjadikan dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu dan memberikan kami rezeki yang baik-baik. “An Nahlu {ayat 72}

b. Menuntut Kasih Sayang Rasul SAW dengan membanyakkan umatnya.
Sabda Rasulullah:
“Hendaklah kamu berkahwin agar dapat melahirkan keturunan pada hari Qiamat kelak aku berbangga jika kamu menjadi umat yang banyak daripada umat yang lain. “

c. Memelihara Keturunan dan Menegahnya dari Tersebar Anak Haram dan Berketurunan.

d. Menuntut Keberkatan Doa dari Anak yang Soleh serta Syafaat dengan Kematian
Anak Kecil.
Sabda Rasulullah saw:
“Apabila seseorang anak adam telah meninggal dunia, putuslah semua amal kebajikannya kecuali tiga, iaitu sedekah jariah, ilmu yang berguna dan anak yang soleh yang mendoakan orang tuanya.”

e. Mengelakkan Diri dari Godaan Syaitan Melalui Syahwat dengan Cara yang Selamat dan Halal.
Sabda RasulullaH.
“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing dari kamu dituntut agar bertanggungjawab atas yang dipimpin.”

f. Membentuk Keluarga Muslim dan Mentarbiah Anak-anak dengan penggabungan suami isteri dalam sudut masing-masing.
Sabda Rasulullah saw:

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita yang solehah.”

Setelah menikah, seorang akan merasa lebih bertanggung jawab untuk bekerja mencari
nafkah untuk keluarga. Setelah menikah, nilai ibadah kita bertambah, rasa saling mengingatkan untuk melakukan kebaikan. Teladan Kemesraan Rumah Tangga Rasulullah Kemesraan adalah antara cara mengekalkan keharmonian rumahtangga & Rasulullah telah mencontohkan kemesraan tersebut dengan isteri-isteri baginda…..

 Tidur dalam satu selimut bersama isteri.
Dari Atha` bin Yasar:”Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. dan Aisyah r.a biasa mandi bersama dlm satu bejana. Ketika baginda sedang berada dlm satu selimut dgn Aisyah, tiba-tiba Aisyah bangkit. Baginda kemudian bertanya, `Mengapa engkau bangkit?` Jawab Aisyah, Kerana saya haid, wahai Rasulullah.’ Sabda Rasulullah, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah & dekatlah kembali padaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” ( Hadis Riwayat sa`id bin Manshur ).

 Memberi wangi-wangian pada aurat
Aisyah berkata, “sesungguhnya Nabi s.a.w. apabila meminyaki badannya, baginda akan memulai drpd auratnya menggunakan nurah ( sejenis serbuk pewangi ) & isterinya baginda meminyaki bagian lain tubuh Rasulullah s..a.w. ( Hadis Riwayat Ibnu Majah ).

 Mandi bersama isteri
Dari Aisyah r.a. beliau berkata, “Aku biasa mandi bersama Nabi s.a.w. menggunakan satu bejana. biasa bersama-sama memasukkan tangan kami ( ke dlm bejana tesebut ).” ( Hadis riwayat Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah ).

 Disikatkan oleh isteri
Dari Aisyah r.a, beliau berkata, ” Saya biasa menyikat rambut Rasulullah s.a.w, ketika itu saya sedang haid”. ( Hadis Riwayat Ahmad ).

 Meminta isteri meminyaki badan
Dari Aisyah r.a, beliau berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah s.a.w pd hari Raya ‘Aidil Adha’ setelah beliau melakukan jumrah aqabah.” ( Hadis Riwayat Ibnu ‘Asakir ).

 Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari Aisyah r.a, dia berkata:”Saya biasa minum dari cawan yg sama walaupun ketika haid. Nabi mengambil cawan tersebut & meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut, lalu Baginda minum, kemudian saya mengambil cawan tersebut dan lalu menghirup isinya, kemudian Baginda mengambilnya dari saya, lalu Baginda meletakkan mulutnya pd tempat saya letakkan mulut saya, lalu Baginda pun menghirupnya.” ( Hadis Riwayat Abdurrazaq dan Said bin Manshur ).
 Membelai isteri
“Adalah Rasulullah s.a.w tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua ( isterinya ) seorang demi seorang. Baginda menghampiri & membelai kami tetapi tidak bersama sehingga Baginda singgah ke tempat isteri yg menjadi giliran Baginda, lalu Baginda bermalam di tempatnya.” ( Hadis Riwayat Ahmad ).

 Mencium isteri
Dari Aisyah r.a, bahawa Nabi s.a.w biasa mencium isterinya setelah mengambil wuduk, kemudian Baginda bersembahyang & tidak mengulangi wuduknya.” ( Hadis Riwayat Abdurrazaq ).

Dari Hafshah, puteri Umar r.a, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w biasa mencium isterinya sekalipun sedang berpuasa.” ( Hadis Riwayat Ahmad ).

 Memanggil dengan panggilan mesra
Rasulullah s.a.w biasa memanggil Aisyah dgn beberapa nama panggilan yg di sukainya spt Aisy & Umairah (pipi merah delima).

 Menyejukkan kemarahan isteri dengan mesra
Nabi s.a.w biasa memicit hidung Aisyah jika dia marah & Baginda berkata, “Wahai Uwaisy, bacalah doa: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku & lindungilah diriku dari fitnah yg menyesatkan.” ( Hadis Riwayat Ibnu Sunni ).

 Membersihkan titisan darah haid isteri
Dari Aisyah r.a, dia berkata.”Aku pernah tidur bersama Rasulullah s.a.w di atas satu tikar ketika aku sedang haid.Apabila darah ku menitis di atas tikar itu, Baginda mencucinya pd bagian yg terkena titisan darah & baginda tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau sembahyang di tempat itu pula, lalu Baginda berbaring kembali di sisiku.Apabila darah ku menitis lagi di atas tikar itu, Baginda mencuci pd bagian yg terkena titisam darah itu saja & tidak berpindah dari tempat itu, kemudian baginda pun sembahyang di atas tikar itu..” ( Hadis Riwayat Nasai ).

 Memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamsh, ia berkata, “Ketika Nabi s.a.w menikah dgn Ummu Salamah, Baginda bersabda kepadanya,’Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kpd Raja Najasyi sebuah pakaian berenda & beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia & aku mengagak hadiah itu akan di kembalikan.Jika hadiah itu memang di kembalikan kepadaku, aku akan memberikanya kepadamu.”

Dia ( Ummu Kaltsum ) berkata,”Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yg di sabdakan Rasulullah s.a.w & hadiah tersebut di kembalikan kpd Baginda, lalu Baginda memberikanyya kepada masing-masing isterinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi & pakaian tersebut Baginda berikan kpd Ummu Salamah.” ( Hadis Riwayat Ahmad )

 Segera menemui isteri apabila tergoda
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi s.a.w pernah melihat wanita, lalu Baginda masuk ke tempat kediaman Zainab, utk melepaskan keinginan Baginda kepadanya, lalu keluar & bersabda, “Wanita kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa syaitan….. ..apabila seseorang di antara kamu melihat wanita yg menarik, hendaklah ia mendatangi isterinya krn pd diri isterinya ada hal yg sama dgn yg ada pd wanita itu.” ( Hadis Riwayat Tirmizi ).
Begitu indahnya kemesraan Rasulullah s.a.w kpd para isteri Baginda, memberikan gambaran betapa Islam sgt mementingkan sikap kerana sikap & perbuatan baik cara yg paling efektif menyatakan rasa cinta, kasih & sayang antara suami & isteri. Inilah teladan yg perlu di contoh.

A. PENGERTIAN KELUARGA
• Personil Keluarga dalam arti luas:
– sanak saudara, kaum kerabat
– orang seisi rumah : ayah, ibu,anak,batin
• – orang-orang dibawah naungan satu organisasi dan sejenisnya
• Perkataan keluarga dalam bahasa Arab disebut usrah; Kalimah ini digunakan pada umumnya untuk menunjukkan setiap kumpulan atau jamaah yang diikat oleh satu ikatan atau pertalian yang melahirkan kesatuan perasaan, kasih sayang dan perpaduan di kalangan anggota.

• Pertalian ini kadangkala bersifat umum hingga merangkumi setiap individu seperti ikatan dalam agama. Adakalanya pertalian ini lebih khusus dan lebih kecil seperti ikatan yang terjalin melalui darah keturunan dan perkahwinan. Pengertian inilah yang dimaksudkan dalam kertas kerja ini.
Fungsi Keluarga

(a) Ciri khas keluarga rumah tangga suami isteri. Keluarga rumah tangga dapat dilihat dari tiga aspek yang mendasarinya, yaitu: [1] persatuan hidup yang pasti dari orang tua sebagai suami isteri, [2] sebagai persekutuan kodrati bagi anak dalam pertumbuhan, [3] persekutuan kodrati yang abadi bagi anak dengan orang tua.
(b) Definisi keluarga secara umum adalah satu unsur dari lingkungan [catur pusat] pendidikan, yaitu : keluarga, sekolah, masyarakat, dan tempat ibadah [masjid]. Keluarga wajib membimbing agar anaknya menjadi pribadi-pribadi muslim yang bahagia dalam kehidupan di dunia dan akirat dan terlepas dari segala penderitaan hidup:

Artinya: Jagalah dirimu serta keluargamu dari siksaan api neraka” [Q.S. at-Tahrim:6]

B. KEPENTINGAN KELUARGA DALAM ISLAM

Islam adalah satunya sistem hidup Ilahi yang terakhir yang diridhai Allah S.W.T untuk membawa pengislahan yang menyeluruh kepada manusia mencakupi setiap dimensi kehidupan. Bermula dari urusan aqidah, ibadah kekeluargaan hinggalah kepada urusan sosial, politik, ekonomi, ketenteraan dan hubungan antara bangsa.

Kesejahteraan dan kekuatan satu-satu umat adalah bergantung kepada kesejahteraan dan kekuatan unit-unit keluarga yang membentuk umat tersebut. Seperti sebuah binaan, kekuatan dan keteguhan adalah bergantung kepada kekukuhan batu-batunya. Bertolak dari hakikat inilah Islam mementingkan kehidupan berkeluarga. Beberapa panduan penting telah digariskan oleh Islam dalam hal ini bagi menjamin kesejahteraan hidup mereka di dunia dan akhirat.

Memandangkan pokok pangkal bagi sesebuah keluarga adalah perkahwinan, maka ianya tidak mendapat tempat yang tersendiri di sisi Islam. Ikatan perkahwinan dan akad nikah adalah satu ikatan amat suci yang disebut dalam Al-Quran sebagai iaitu perjanjian yang amat kukuh.

C. Tujuan Berkeluarga

Membentuk keluarga yang utuh merupakan sunnah Nabi. Rasulullah mengatakan bahwa “Barang siapa yang membenci Sunnahku bukan Ummatku”.

Adapun tujuan berkeluarga antara lain
– Mentaati aturan hidup
– Menjalankan anjuran agama
– Mewujudkan keluarga yang sakinah
– Mengembangkan dakwah Islam
Memupuk Keluarga yang Utuh
– Menyatukan watak
– Memadukan diskusi tentang mendidik anak
– Mengatasi masalah yang terjadi bersama
– Menjalin hubunga yang harmonis (seperti yang di contohkan Rasulullah)
– Menjalin hubungan yang erat dan
– Memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani

D. 5 PILAR KELUARGA SAKINAH

masyarakat adalah cerminan kondisi keleuarga, jika keluarga sehat berarti masyarakatnya juga sehat. Jika keluarga bahagia berarti masyarakatnya juga bahagia. Ada 5 pilar untuk membentuk keluarga sakinah diantaranya sebagai berikut.

1. Dalam keluarga itu ada mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara,
yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga, sebaliknya, rahmah, lama kelamaan menumbuhkan mawaddah.

2. Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu
(a) menutup aurat,
(b) melindungi diri dari panas dingin, dan
(c) perhiasan.
Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik di luaran tampil menarik orang banyak, di rumah “nglombrot” menyebalkan.

3. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya.

4. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran dst);
(a) memiliki kecenderungan kepada agama,
(b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda,
(c) sederhana dalam belanja,
(d) santun dalam bergaul dan
(e) selalu introspeksi.

5. Menurut hadis Nabi juga, empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar’i), yakni
(a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah),
(b) anak-anak
yang berbakti,
(c) lingkungan sosial yang sehat , dan
(d) dekat rizkinya.

E. PENGERTIAN SAKINAH

Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al-Quran surat 30:21 litaskunu ilaihi yang artinya bahwa allah SWT menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain. Dalam bahasa arab, kata sakinah didalamnya terkandung arti tenang,
terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Bahkan pernikahan itu biasa mendatangkan kenikmatan cinta kasih dan Rahmat Allah.

pengertian ini pula dipakai dalam ayat-ayat Quran dan Hadist dalam konteks kehidupan manusia. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi ideal biasanya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak mendadak tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan terlebih dahulu. Keluarga sakinah merupakan subsistem dari sistem sosial menurut Quran bukan bangunan diatas lahan kosong. (diambil dari buku Prof. Achmad Muabrok yang berjudul “Psikologi Keluarga: Dari Keluarga Sakinah Hingga Keluarga Bangsa hal:148)

Hikmah Membentuk Keluarga
– Mendatangkan Rejeki
– Menyempurnakan nilai Ibadah
– Nafsu tersalurkan
– Kehormatan terjaga
– Mengembangkan keturunan
– Menentramkan jiwa
– Menghindari zinah
– Menjaga kesehatan
– Menumbuhkan tanggung jawab
– Menambah Saudara.

Dalam Islam kata Sakinah menandakan ketenangan dan kedamaian secara khusus,yakni kedamaian dari Allah yang berada dalam kalbu Sakinah berasal dari kata ‘Sakan’ yang berarti tenang,merdeka,hening,tinggal
Di dalam Al Quran istilah Sakinah dapat dijumpai antara lain :
1. Q.S. Al Baqarah (2):248
Dan Nabi mereka menjawab,”Tanda kepemimpinannya ialah datangnya Tabut (Peti Taurat) kepadanya,yang mengandung ketenangan (memuaskan hati) dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh para malaikat”,Sesungguhnya ini merupakan ayat bagimu bila kamu betul-betul beriman.
2. Q.S. At Taubah (9) : 26
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang mukmin dan Allah juga menurunkan bala tentara yang tidak terlihat olehmu,saat itu Allah mengazab orang kafir, Itulah pembalasan bagi orang kafir.
3. Q.S At Taubah (9) : 40
Jika kamu tidak menolong Muhammad,Allah cukup sebagai penolongnya,ketika orang kafir mengusirnya dari Mekah,dengan seseorang yang menyertainya,berdua didalam gua,saat itu Muhammad berkata kepada sahabatnya,”Jangan Sedih,Allah pasti dipihak kita”.
Allah menurunkan ketenangan kepada Muhammad dan memperkuat dengan tentara yang tidak terlihat olehmu.
Saat itu Allah menjadikan wibawa orang kafir sangat merosot,Adapun Kalimat Allah tetap tinggi,Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana
4. Q.S. Al Fath (48) : 4
Dialah Tuhan yang menurunkan rasa tentram (ketenangan) di hati orang beriman,agar imannya makin hari makin kuat.Kepunyaan Allahlah seluruh tentara di langit dan di bumi.Dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
5. Q.S. Al Fath (48) : 18
Sungguh Allah telah rido kepada orang mukmin, saat mereka berjanji kepadamu di bawah sebatang pohon, Allah mengetahui segala yang terkandung dalam hati mereka.Kemudian kepada mereka Allah menurunkan rasa tentram (ketenangan) dan memberi kemenangan yang dekat.
6. Q.S. Al Fath (48) : 26
Sewaktu orang kafir membangkitkan semangat jahiliyah,yakni kesombongan,Allah menurunkan ketenangan kepada Rosul-Nya dan kepada orang yang beriman,Dan Ia menjadikan orang mukmin selalu berpegang pada sikap takwa,Mereka yang paling berhak dan patut memiliki sikap itu,Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu.
7. Q.S. Ar Ruum (30) : 21
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya,dan dijadikannya diantaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah),Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

KELUARGA DALAM RUMAH TANGGA SUAMI ISTERI

Definisi Keluarga (Suami Isteri) Sakinah

Keluarga Sakinah adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memberikan kasih sayang kepada anggota keluarganya sehingga merkea memiliki rasa aman, tentram, damai serta bahagia dalam mengusahakan tercapainya kesejahteraan dunia akhirat. Keluarga yang harmonis, sejahtera, tenteram dan damai.
Surat Ar-Rum : 21
Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Keluarga sakinah dicapai melalui Mawadah Wa Rachmah. Mawadah: kasih sayang, yang lahir dari interaksi fisik. Rahmah: kasih sayang, yang lahir dari interaksi batin. Interaksi fisik semakin lama semakin berkurang. Interaksi batin semakin lama semakin menguat, tergantung bagaimana pasangan memupuk dan menjaganya. Pendekatan kasih sayang pendekatan yang paling ideal untuk menciptakan keluarga sakinah. Untuk mencapai keluarga sakinah perlu ada keseimbangan antara hak dan kewajiban masing-masing istri dan suami.

F. MEMBENTUK KELUARGA & RUMAH TANGGA SAKINAH
F.a SADAR KEWAJIBAN
 Kewajiban bersama suami istri:
• Syukur bila memperoleh nikmat
• Sabar bila memperoleh kesulitan/cobaan
• Tawakal bila mempunyai rencana
• Musyawarah dalam menyelesaikan persoalan
• Saling menghargai, menghormati, mempercayai dan berlaku jujur
• Setia
• Pandai-pandai menyimpan rahasia rumah tangga, cacat, cela suami-istri.
• Membiasakan hidup sederhana
• Saling nasehat menasehati
• Mempererat silaturahmi antara keluarga suami atau istri
• Siap saling memberikan maaf dan minta maaf bila melakukan kesalahan
 Kewajiban bersama terhadap anak

Surat An-Nisa, ayat 9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah An-Nisaa`:9
Ayat ini perintah agar:
Mempersiapkan generasi penerus yang mampu bertanggung jawab dan mengemban tugas-tugas dan menjawab tantangan zaman dengan sebaik-baiknya.

Kewajiban terhadap anak tersebut:
Meletakkan dasar keagamaan, untuk penanaman keimanan dan ketaqwaan.
Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak dapat berkembang optimal.
Memberikan sarana dan prasarana yang memadai sesuai kebutuhan dan kemampuan
Memenuhi kebutuhan ekonomis, psikis, fisik dan sosial.
Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?” Rasulullah Saw hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.“

Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain. Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.” Kemudian, istri-istri Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.

Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik. Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk.

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].
Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah yang paling baik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku. [al-Hadits].

Begitulah, suami janganlah kesibukannya mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Suami berkewajiban mengontrol dan mengawasi anak dan istrinya, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah, meninggalkan larangan Allah swt sehingga terhindar dari siksa api neraka. Ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah jika anak dan istrinya meninggalkan ibadah wajib, melakukan kemaksiatan, membuka aurat, khalwat, narkoba, mencuri, dan lain-lain.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari].

 Kewajiban Istri

Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj/Aurat, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir-batin, dunia-akhirat.

Tanggung jawab seperti itu bukan main beratnya. Para suami harus berusaha mengantar istri dan anak-anaknya untuk bisa memperoleh jaminan surga. Apabila anggota keluarganya itu sampai terjerumus ke neraka karena salah bimbing, maka suamilah yang akan menanggung siksaan besar nantinya.
Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan hukum syara’, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.

Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki. [al-Hadist].

Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah. [HR. Muslim, Ahmad dan an-Nasa’i].

Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisaa’: 34).

Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah. (Qs. al-Ahzab: 32).

Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka. [al-Hadits].

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu. [al-Hadist].

Dalam lingkungan keluarga muslim, orang tua [bapak dan ibu] harus berusaha untuk menciptakan dan menanamkan kepribadian muslim dengan:
a. Tanamkan dan mendirik anak untuk bertaqwa kepada Allah, sebagaimana contoh Luqman al-Hakim dalam mendirik anaknya:

Artinya: “Dan ingatlah takkala Luqman berkata kepada anaknya, sedang ia menasihati dia, hai anakku janganlah engkau sekutukan sesuatu dengan Allah, karena sesungguhnya syirik itu suatu penganiyaan diri yang besar” [Luqman:13]
b. Menciptakan Sifat Kasih Sayang [Mawadtan warahmah]
Dalam kehidupan keluarga, anak-anak membutuhkan dialog yang penuh dengan pendekatan manusiawi dan kasih sayang. Anak-anak membutuhkan perhatian, pemeliharaan, perlindungan, pengawasan dan bimbingan.
c. Orang [bapak dan ibu] harus memberikan nafkah yang baik dan halal dan harus terhindar dari nafkah yang batil.
d. Orang tua [bapak dan ibu] berusaha mengajarkan kepada anak-anaknya tentang kejujuran, keadilan, kesabaran dan keikhlasan, sebab pada prinsipnya anak-anak itu membawa potensi [fitrah] dan berusaha mengimitasi, bagaimana cara dan pendekatan dalam pembinaan.
e. Berikanlah contoh akhlak yang baik dalam lingkungan keluarga dan ajarkan pada keluarga untuk pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

Artinya: Niscaya jikalau kamu semua bersyukur, parti Aku [Allah] akan memberi tambahan padamu semua [Q.S. Ibrahim:7].
f. Berikanlah pegangan hidup sebagai landasan utama ialah dengan mengenalkan kitab suci al-Qur’an sedini mungkin, membaca, mendengarkannya kepada keluarga, mengamalkannya menurut kadar kemampuan.

Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan, supaya kalian mengingat akan kebesaran Allah.” Surat Adz Dzariat (51) :49

Pernikahan adalah sunnah Allah yang fundamental dan merupakan salah satu urgensi yang pasti dibutuhkan kehidupan. Manfaat perkawinan antara lain: 1) Kelangsungan keturunan dan populasi. 2) Menjaga suami istri agar tidak melakukan perbuatan keji, menangkal penyimpangan seksual dan agar tidak melakukan hal-hal yang diharamkan.

F.b PERSELISIHAN

Suami dilarang memukul/menyakiti istri, jika terjadi perselisihan ada beberapa tahapan yang dapat ditempuh,

Istri-istri yang kalian khawatirkan pembangkangannya, maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka dari tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membahayakan). Akan tetapi, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Jika kalian merasa khawatir akan adanya persengketaan diantara keduanya, maka utuslah seorang (juru damai) dari pihak keluarga suami dan sorang juru damai dari pihak keluarga istri. Jika kedua belah pihak menghendaki adanya perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada suami-istri. (Qs. an-Nisaa’: 35).

Demikianlah Islam mengatur dengan sempurna kehidupan keluarga sehingga terbentuk keluarga sakinah dan bahagia dunia-akhirat. Wallahua’lam.

Hak Istri yang Harus Dipenuhi Suami
Diantara kewajiban dan hak tersebut adalah seperti yang tercantum dalam sabda Nabi Salallahu ‘alaihi Wa Sallam dari sahabat Mu’awiyah bin Ka’ab Al-Qusyairy Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata : … saya telah bertanya, “Ya Rasulullah apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya …?” Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : …
1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan.
2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.
3. Janganlah engkau memukul wajahnya, dan.
4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan.
5. Janganlah engkau tinggalkan dia melainkan di dalam rumah (jangan berpisah tempat tidur melainkan didalam rumah).
Mengajarkan Ilmu Agama
Disamping hak diatas harus dipenuhi oleh seorang suami, seorang suami juga wajib. Allah Ta’ala Berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (terbuat dari) manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.AT-Tahrim : 6)
Untuk itulah, kewajiban sang suami untuk membekali dirinya dengan menuntut ilmu syar’i (Thalabul Ilmi) dengan menghadiri majlis-majlis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an dan AS-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih (Generasi terbaik) yang mendapatkan jaminan dari Allah, sehingga dengan bekal tersebut seorang suami dapat mengajari istri dan anaknya, jika dia tidak sanggup mengajarkannya kepada keluarganya maka seorang suami harus mengajak isterinya untuk menuntut ilmu syar’i dan menghadiri majlis-majlis taklim yang mengajarkan tentang Aqidah, Tauhid, Mengikhlaskan Agama hanya kepada Allah, dan mengajarkan tentang bersuci, berwudhu, shalat, serta adab dan akhlaq lainnya.
Hak Suami yang Harus Dipenuhi Istri
Ketaatan Istri Kepada Suaminya
Setelah Wali (orang tua) sang isteri menyerahkan isteri kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada sang suami menjadi hak yang tertinggi yang harus dipenuhi seorang isteri kepada suaminya, setelah kewajibannya kepada Allah dan Rasul-Nya Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang untuk sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)
Sang isteri harus taat kepada suaminya, dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung kebaikan dalam hal agama), misalnya ketika diperintahkan untuk mendirikan shalat, berpuasa, mengenakan busana muslimah, menghadiri majlis ilmu, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. hal inilah yang justeru akan mendatang kan surga bagi dirinya.
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, menjaga kemaluannya,menjaga kehormatannya dan dia taat kepada suaminya. niscaya dia akan masuk surga dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki”. (HR. Ibnu Hibban)
Istri Harus Banyak Bersyukur dan Tidak Banyak Menuntut
Perintah ini sangat ditekankan dalam islam, bahkan Allah ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat, manakala sang isteri banyak menuntut kepada suaminya dan tidak bersyukur kepadanya.
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya aku diperlihatkan neraka dan melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, Sahabat bertanya : … Sebab apa yang menjadikan mereka paling banyak menghuni neraka … , Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : … Denga sebab kekufuran, Sahabat bertanya : … Apakah dengan sebab mereka kufur kepada Allah … , Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : … (Tidak). Seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka ia pun mengatakan … ‘aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu’ … “.(HR> Bukhari, Muslim, Malik, ‘Abu ‘Awanah, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi)
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut [tidak pernah merasa cukup]. (HR. An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)
Istri Harus Berbuat Baik Kepada Suaminya
Perbuatan ikhsan (baik) seorang suami harus dibalas pula dengan perbuatan yang serupa atau yang lebih baik lagi. isteri harus berkhidmat kepada suaminya dan menunaikan amanah untuk mendidik anak-anaknya, menurut syari’at islam yang mulia. karena Allah Ta’ala telah wajibkan kepada seorang isteri untuk mengurus suaminya, mengurus rumah tangganya, dan mengurus anak-anaknya.
Nasihat Untuk Suami Istri
Diantara nasihatku untuk suami isteri adalah :
1. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan bersama maupun sendiri, dirumah maupun diluar rumah.
2. Wajib menegakkan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjaga batas-batas Allah Ta’ala didalam keluarga.

3. Melaksanakan kewajiban kepada Allah Ta’ala dan meminta tolong kepada Allah Ta’ala. laki-laki wajib mengerjakan shalat yang lima waktu dimasjid secara berjamaah, dan perintahkan anak-anak untuk shalat tepat pada waktunya.

4. Menegakkan shalat-shalat sunnah, terutama qiamul’lail (shalat malam/tahajud).

5. Perbanyaklah berdzikir kepada Allah ta’ala, Bacalah Al-Qur’an setiap hari terutama surat Al-Baqarah, Bacalah pula dzikir-dzikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa’ Sallam, Ingatlah bahwasanya setan tidak senang terhadap keutuhan rumah tangga dan setan selalu berusaha mencerai-beraikan pasangan sisteri, Dan ajarkan anak-anak untuk membaca Al-Qur’an dan Dzikir.
6. Bersabarlah atas musibah yang menimpa dan bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat-Nya.

7. Terus-menerus berintrospeksi antara suami dan isteri. saling menasehati dan tolong-menolong serta maaf-memaafkan dan saling do’a-mendo’akan, dan janganlah saling egois dan benci.
8. Berbakti kepada kedua orang tua.
9. Mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, ajarkan tentang Aqidah, Ibadah dan Akhlaq yang benar dan mulis.

10. Jagalah anak-anak dari media yang merusak Aqidah dan Akhlaq.
Nasihat Khusus Untuk Suami
Untukmu Wahai Para Suami ….. !!!
• Apa yang memberatkanmu – wahai hamba Allah – untuk tersenyum dihadapan isterimu ketika engkau masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Ta’ala.
• Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika engkau melihat isteri dan anak-anakmu … dan engkaupun akan dapat pahala.
• Apa sulitnya apabila engkau masuk kerumah sambil mengucapkan salam secara sempurna, “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” agar engkau memperoleh tiga puluh kebaikan.
• Apa yang kira-kira akan menimpamu jika engkau berkata kepada isterimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkatanmu itu agak sedikit dipaksakan.
• Apakah menyusahkanmu – wahai hamba Allah – jika engkau berdo’a : “Ya Allah perbaikilah isteriku dan curahkan keberkahan kepadanya”.
• Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan shadaqah …
Nasihat Khusus Untuk Istri
Untukmu Wahai Para Istri …..!!!
• Apakah menyulitkanmu jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk kerumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis.
• Berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. gunakanlah wangi-wangian, bercelaklah, berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu, Ingatlah jangan sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut dihadapannya.
• Jadilah engkau seorang isteri yang memiliki sikap lapang dada, tenang dan selalu ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam segala keadaan.
• Didiklah anak-anakmu dengan baik, penuhilah rumahmu dengan Tasbih, Takbir, Tahmid, dan Tahlil. serta perbanyaklah membaca Al-Qur’an, khususnya surat Al-Baqarah karena surat tersebut dapat mengusir syaitan.
• Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, anjurkanlah ia untuk melaksanakan puasa sunnah dan ingatkanlah ia kembali tentang keutamaan berinfaq. serta janganlah melarangnya untuk menjaga tali silaturahim.
• Perbanyaklah Istighfar untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum muslimin, dan berdo’a lah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. dan ketahuilah sesungguhnya Rabbmu maha mendengar Do’a
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :
Dan Rabb kalian berfirman : … Berdo’a lah kepada-Ku, niscaya aku akan mengabulkan untuk kalian.” (QS. Al-Mu’min :60).
Kepemimpinan Laki-Laki Atas Wanita
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka. sebab itu maka wanita yang shaleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah maha Tinggi dan maha Besar”. (QS. An-Nisa’ :34).
Kewajiban Mendidik Anak
Sang suami sebagai kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik dalam mengemban tanggung jawabnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mempertanyakannya dihari akhir kelak.
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda :
“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggungjawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (Raja) adalah pemimpin, laki-lakipun pemimpin atas keluarganya, dan perempuan juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Ingatlah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dari sahabat Ibnu Umar).
Maka seorang suami haruslah berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menjadi seorang suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu Agama, memahaminya serta melaksanakan dan mengamalkannya apa-apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Salallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta menjauhkan diri dari setiap yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasil-Nya Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian dia mengajak dan membimbing sang isteri untuk berbuat yang demikian juga, sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orang tuanya karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru apa yang ada disekitarnya.
1. Mendidik anak dengan cara yang baik dan sabar agar mereka mengenal dan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah menciptakannya dan yang telah menciptakan seluruh alam semesta. mengenal dan mencintai Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang pada diri beliau terdapat suri tauladan yang baik dan mulia, serta agar mereka mengenal dan memehami Islam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pada usia dini (sekitar 2-3 tahun), kita ajarkan kepada mereka “Kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al-Qur’an”, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Sahabat dan generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al-Qur’an pada usia yang sangat belia.
3. Perhatikanlah Sholatnya, dan jagikan prioritas utama bagi orang tua terhadap anak-anaknya.
4. Perhatikanlah juga Akhlaknya, dan tekankan kepada anak-anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya.
5. Perhatikanlah juga teman pergaulannya, larena bisa jadi pengaruh jelek temannya akan berimbas pada prilaku dan akhlak anak-anak kita.
6. Disamping ikhtiar yang dilakukan untuk menjadikan isteri kita menjadi isteri yang shalihah, dan hendaklah seorang suami juga memanjatkan Do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktu-waktu yang mustajab (waktu terkabulnya Do’a), seperti : Sepertiga malam yang akhir, agar keluarganya dijadikan keluarga yang shalih dan rumah tangganya diberikan sakinah, mawaddah wa rahmah seperti Do’a yang tercantum dalam Al-Qur’an :

“Dan orang-orang yang berdo’a ….. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami, keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqaan : 74)
dari penjelasan diatas paling tidak seorang suami hendaknya bisa menjadi teladan dalam keluarganya, dihormati oleh isteri dan anak-anaknya, kemudian mereka menjadi hamba-hamba Allah Sibhanahu wa Ta’ala yang shalih dan shalihah, bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikianlah kiat-kiat yang hendaknya seorang muslim dan muslimah lakukan untuk terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Wallahu A’lam Bish Shawab …..

. PENUTUP.

Hanya inilah saja yang dapat dibentangkan berhubung dengan “Penubuhan Keluarga Dalam Islam” bagi siri pertama. Di harap ianya dapat dijadikan panduan khususnya kepada muda-mudi islam .Marilah kita sama-sama berdoa semoga Allah SWT sentiasa memberikan Taufik dan Hidayahnya kepada kita untuk memahami dan mengamalkan cara hidup Islam yang merupakan satu-satunya cara hidup yang diredhai oleh Allah SWT. Semoga dengan ini kita dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat yang mana ia merupakan matlamat hidup yang paling unggul.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki “Surga”. Dia memegang teguh firman Allah,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.

Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world “Akhirat”. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri.

 Pernikahan adalah upaya untuk saling melengkapi antara dua orang yang tidak sempurna dan saling memahami antara dua orang yang berakal.
 Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan juga anak-anak yang selalu menjaga rasa aman dan ketentraman ketika menghadapi segala suka duka hidup dalam eratnya arti ikatan luhur hidup bersama.
 Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al-Quran surat 30:21 litaskunu ilaihi yang artinya bahwa allah SWT menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain. Dalam bahasa arab, kata sakinah didalamnya terkandung arti tenang,terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Bahkan pernikahan itu biasa mendatangkan kenikmatan cinta kasih dan Rahmat Allah.
 Kata ‘Sakinah’ mempunyai beberapa pengertian :
-Ketenangan
-RasaTentram
-Bahagia
– Sejahtera Lahir Batin
– Kedamaian secara Khusus
– Hal yang memuaskan hati

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

DAFTAR PUSTAKA
1. ‘Isyratun Nisaa’ (Imam Abu Abdirrahman Ahman bin Syu’aib bin ‘Ali An-Nasa’i), tahqiq dan ta’liq ‘Amir ‘Ali ‘Umar, cetakan Maktabah As-Sunnah Kairo, thn 1408 H.
2. Addabuz Ziffaf Fis Sunnah Al-Muthahharah, ta’lif Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-albany.
3. Irwaa-ul Ghaliil Fii Takhrijii Ahaadits Manaaris Sabil, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany.
4. Al-Insyirah Fii Adaabin Nikah, ta’lif Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsary, cetakan II Darul Kitab Al-’Araby. thn 1408 H.
5. Fiqhut Ta’amul Baina Az-Zaujani Wa Qabasat Min Baitin Nubuwwah, ta’lif Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-Adawy, cetakan I Darul Qasim 1417 H.
6. Tuhfatul ‘Arus, Syaikh Muhammad Mahdi Al-Istanbuly.
7. Adaabul Khitbah Wa Zifaaf Fis Sunnah Al-mutahharah, ta’lif ‘Amr ‘Abduh Mun’im Salim, cetakan I Daarudh Dhiyaa’, thn 1421 H
8. http://seputarmuslimah.blogspot.com/2008/08/kemesraan-adalah-antara-cara.html
9. http://gusuwik.info/category/mahabbah-pustaka
10. http://www.eramuslim.com/
11. Mei 18, 2009 pada 2:25 pm PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
oleh Bidan Evi Yuzana Ihsan Dacholfany SKM – 2008 (Jakarta Islamic Hospital)
12. http://muslimkeluarga.blogspot.com/2007/06/membentuk-keluarga-sakinah-wa-rahmah.html
13. http://baitijannati.wordpress.com/2007/03/10/keluarga-sakinah/
14. http://www.tentang-pernikahan.com/article/articleindex.php?aid=883
15. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1835163-tips-keluarga-sakinah/
16. http://www.slideshare.net/road_to_khilafah/menuju-keluarga-sakinah
17. http://notok2001.blogspot.com/2007/07/pendidikan-dalam-keluarga.html

3 thoughts on “SUPER FAMILY / KELUARGA SAKINAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s